pertanyaanEvii saat itu membuat aku terkejut, mengapa tidak dari dulu aku mengaguminya dan ternyata dia diam-diam juga menyukaiku!!!! Salah satu brand produk jenang Hilmu yang sudah cukup terkenal adalah Jenag Kudus Mubarok. Hilmy mengatakan jenang Mubarok sudah ada sejak lama namun dahulu jenang masih hanya sebagai cemilan
Berlokasidisamping outlet oleh oleh jenang mubarok yang produknya lebih dikenal dengan nama Sinar 33 di Jalan Sunan Muria Kudus. Museum ini menonjolkan citra kudus sebagai produsen jenang di indonesia. Museum jenang menampilkan kisah masyarakat kudus pada tahun 1930-an dimana industri jenang kudus dimulai.
HargaJenang Mubarok. Di Kudus ada beberapa merk Jenang. Namun yang saya suka adalah yang bermerk Mubarok. Meski begitu merk yang lain ataupun yang curah juga tetap enak kok. Patut kamu coba. Harga Jenang Mubarok yang umumnya ada di angka antara Rp 20.000,- hingga Rp 50.000,- harga yang murah untuk menebus makanan yang enak banget ini.
Vay Tiền Nhanh. Jenang kudus merupakan panganan tradisional khas Kudus, di Jawa Tengah. Tidak sulit menemukan makanan satu ini di daerah asalnya, hampir di semua kawasan wisata tersedia jenang kudus sebagai oleh-oleh. Tak sekadar jajanan, jenang ini punya sejarah dan cerita menarik di baliknya, lo, Parents. Penasaran seperti apa? Simak ulasan selengkapnya berikut ini. 6 Fakta Menarik Jenang Kudus 1. Asal Muasalnya Kisah asal muasal jenang khas Kudus ini tak lepas dari figur yang sangat popular di wilayah yang dijuluki Kota Santri tersebut, yakni Sunan Kudus. Konon, Sunan Kudus, Saridin atau Syekh Jangkung, dan Mbah Dempok Soponyono bersama cucunya suatu ketika melakukan perjalanan. Cucu Mbah Dempok Soponyono kemudian bermain burung dara di tepi sungai yang selanjutnya diberi nama Sungai Kaliputu. Malangnya, bocah tersebut tercebur dan hanyut. Ia pun diselamatkan warga sekitar. Sunan Kudus kemudian menyimpulkan, bocah itu telah meninggal dunia. Namun, Syekh Jangkung berpendapat lain. Menurutnya, cucu Mbah Dempok hanya mati suri. Untuk membangunkannya, Syekh Jangkung meminta kepada warga sekitar agar membuat jenang bubur gamping untuk diberikan kepada anak tersebut. Tak disangka, anak itu pun hidup kembali. Singkat cerita, Sunan Kudus pun berkata, “Suk nek ana rejaning jaman, wong Kaliputu uripe saka jenang.” Suatu saat kelak jika zaman sudah ramai, orang Kaliputu hidup dari jenang. 2. Arak-arakan Jenang sebagai Tanda Syukur Menariknya, kini Kaliputu dikenal sebagai pusat produksi kuliner yang yang satu ini. Sebagai wujud syukur atas berkah yang diterima warga desa Kaliputu, maka setiap menyambut Tahun Baru Hijriah atau 1 Syura, diadakanlah acara Kirab Tebokan. Acar bernuansa budaya tersebut merupakan arak-arakan jenang. Tebok atau tampah berisi Jenang dibentuk berbagai bentuk, misalnya miniatur Menara Kudus dan Masjid Kudus. Artikel terkait 10 Resep Kue Basah Tradisional yang Enak dan Mudah Dibuat 3. Jenang Kudus Beda dengan Dodol Sekilas, bentuk dan penampilannya mirip dengan dodol. Keduanya memang terbuat dari bahan yang hampir sama, yaitu tepung ketan, gula kelapa atau gula aren, dan santan. Jenang biasanya disajikan dalam potongan-potongan kecil, dibungkus dengan kertas atau plastik, lalu dikemas dalam sebuah dus. Makanan dengan tekstur kenyal ini juga memiliki berbagai varian rasa. Mulai dari rasa original, durian, nangka, pandan, susu, cokelat, moka, hingga kapucino. Perbedaannya dengan dodol hanya terletak pada tekstur. Jenang cenderung lebih lembut dan sedikit basah. 4. Produsen Legendaris Jenang Kudus Berusia Lebih dari 100 Tahun! Foto Instagram/vembriarose Adalah Jenang Mubarok, produsen jenang Kudus yang sangat legendaris. Usaha keluarga turun-temurun tersebut bahkan telah berdiri lebih dari 110 tahun silam. Jenang Kudus Mubarok dirintis oleh Hj Alawiyah. Lokasi penjualannya berada di Pasar Kudus, saat ini dikenal sebagai tempat parkir para peziarah makam Sunan Kudus di Masjid Menara. Setelah Alawiyah meninggal, usaha jenang dilanjutkan oleh anak laki-lakinya, H Achmad Shochib. Di tangan sang putra, perusahaan berkembang semakin pesat. Kini Jenang Mubarok dijalankan oleh generasi ketiga dengan tetap menggunakan resep dan bahan-bahan tradisional. Artikel terkait 7 Tempat Wisata Kuliner di Solo yang Wajib Parents Kunjungi 5. Museum Jenang Foto Instagram/museum_jenang_mubarok Mengukuhkan eksistensi jenang sebagai makanan khas Kudus, sejak tahun 2017 telah berdiri Museum Jenang yang pertama. Museum ini berlokasi di Jalan Sunan Muria, 33, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Keberadaan Museum Jenang diinisiasi oleh PT Mubarok Food Cipta Delicia, perusahaan yang menaungi Jenang Mubarok. “Tepat satu abad kami berdiri, tercetus ide mendokumentasikan kegiatan pembuatan jenang, dan tentang Kudus, dalam bentuk yang bisa dinikmati bersama oleh siapa pun. Sekitar tahun 2010 dan akhirnya tepat pada 24 Mei 2017 ide kami jadi nyata, meresmikan Museum Jenang,” ujar Muhammad Hilmy, Dirut PT Mubarok Food Cipta Delicia, mengutip dari Detik Travel. Museum tersebut berisi beragam foto dan patung terkait cara proses membuat jenang. Juga ada perlengkapan yang digunakan dari masa ke masa. Museum Jenang menonjolkan desain bangunan yang menarik karena menampilkan visualisasi pembuatan, penyajian, hingga pelestarian jenang. Artikel terkait 5 Jenis Tarian Jawa Tengah yang Indah, Kenalkan pada Si Kecil, Bund! 6. Diekspor ke Berbagai Negara Jenang telah menjadi salah satu identitas Kota Kudus. Tidak sulit menemukan penganan ini karena hampir tersebar di setiap sudut pusat pariwisata. Namun tak sampai di situ saja, rupanya konsumen jenang sudah sampai hingga ke mancanegara. Produk dengan merek Jenang Mubarok misalnya telah dipasarkan ke berbagai negara. Antara lain Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Hongkong, dan Arab Saudi. **** Nah, itulah tadi sederet fakta menarik tentang jenang kudus. Kekayaan kuliner tradisional hendaknya dapat dilestarikan oleh generasi masa kini. Baca juga 10 Tempat Wisata Kuliner di Purwokerto, Paling Recommended! Bikin Nagih, Ini 10 Kuliner Legendaris Bogor yang Masih Eksis 10 Tempat Wisata Kuliner Hits di Makassar, Makanan Berat Hingga Cemilan Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Kudus, tak lengkap rasanya jika pulang tanpa oleh-oleh jenang Kudus. Selain bisa ditemukan di sejumlah toko di sekitar tempat wisata, camilan khas yang terbuat dari tepung beras, santan dan gula Jawa ini, juga bisa ditemukan di Museum Jenang, Mubarok Food, di Jalan Sunan Kudus, Desa Glantengan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.. Sejumlah pekerja tengah mengemas jenang di Mubarok Food. Foto Kaerul Umam Di museum yang mendapatkan Rekor MURI sebagai museum jenang satu-satunya di Indonesia itu, pengunjung bisa belajar sejarah awal berdirinya Jenang Mubarok. Tak hanya itu, berbagai miniatur bangunan ikonik Kudus juga disediakan lengkap. Tim Beta Explore bertemu Manajer Marketing Mubarok Food, M Kirom di Museum Jenang. Tim kemudian bertanya sejarah awal Mubarok Food didirikan. Dia menjelaskan, Jenang Mubarok dirintis oleh Alawiyah pada tahun 1910 hingga tahun 1940. Alawiyah merupakan warga Desa Kaliputu, daerah yang hingga saat ini dikenal sebagai daerah awal munculnya jenang. Alawiyah kemudian menikah Mabruri penduduk asli Desa Glantengan. Setelah Alawiyah meninggal, usaha jenang kemudian dilanjutkan oleh putranya, Achmad Shochib yang menjadi Generasi Kedua. Di tangan Achmad Shochib, perusahaan jenang tersebut membuat produk jenang kemasan dengan merek Sinar Tiga Tiga, sebagai identitas produk.
Sang Pioner dari Kaliputu Gusjigang ibarat roh warga Kudus. Karakter ini pula yang menggerakkan laku hidup masyarakat Kudus, tak terkecuali pasangan suami istri H. Mabruri dan Hj. Alawiyah yang hidup pada era awal abad XX. Layaknya warga Kudus pada umumnya, pasangan suami istri ini juga dua sosok yang taat beragama. Ritual ibadah baik yang wajib maupun sunnah dilakukan oleh H. Mabruri dan Hj. Alawiyah. Bahkan sebagai bentuk ketaatan terhadap ajaran agama, mereka berdua pun menjalankan ukun Islam yang kelima, yakni ibadah haji di tanah suci. Waktu itu awal tahun 1900-an, perjalanan ke Makkatul Mukarromah dan Madinatul Munawwaroh bukan sesuatu yang mudah seperti sekarang ini. Butuh kesiapan mental, kecakapan menjalankan ritual serta dukungan finansial yang besar, untuk bisa melaksanakan ritual "puncak" dari Rukun Islam tersebut. Dan setelah melewati perjuangan berat, akhirnya mereka berdua pun dapat melakukan ibadah haji dan kembali ke Kudus dengan selamat. Sekembali dari tanah suci, pasangan suami istri beraktivitas layaknya warga Kudus pada umumnya. H. Mabruri mencari nafkah dengan cara berdagang. Meski sudah ada pencari nafkah, namun layaknya perempuan Kudus pada saat itu, Hj. Alawiyah tak ingin hanya berdiam diri di rumah saja. Perempuan di desa ini, dikenal mahir sebagai pembuat jenang. Hal ini tidak terlepas dari cerita lisan yang berkembang turun temurun tentang sebuah kisah yang pernah terjadi di tepi sungai Kaliputu pada masa Sunan Kudus. Waktu itu, cucu Mbah Dempok Soponyono tercebur di sungai tersebut. Meski akhirnya tertolong, namun cucu Mbah Dempok tidak sadarkan diri. Kebetulan waktu, Sunan Kudus dan Syeikh Jangkung melintas di tepi sungai tersebut. Agar cucu Mbah Dempok itu siuman, akhirnya Syeikh Jangkung meminta perempuan di sekitar lokasi membuat jenang bubur gamping. Hal inilah yang melatarbelakangi berkembangnya industri jenang di Kudus. Cerita ini pulalah yang menginspirasi ibu-ibu warga Desa Kaliputu beraktivitas membuat jenang. Awalnya, Hj. Alawiyah membuat jenang hanya untuk camilan keluarga dan tidak dijualbelikan. Rupanya, jenang buatan Hj. Alawiyah ini cocok di lidah keraba maupun tetangga yang ada di kanan kiri rumahnya. Bermula dari itu, dan dibantu "promosi" dari mulut ke mulut, jenang produksi Hj. Alawiyah kian dikenal khalayak ramai. Sejarah Jenang Kudus Mubarok dimulai saat Hj. Alawiyah dan H. Mabruri mulai menjajakan jenang dari tangan ke tangan di Pasar Bubar yang dulu berada di sekitar Masjid Al Aqsha Menara Kudus kini areal makam Sunan Kudus sekitar tahun 1910. Waktu itu, jenang di jajakan dengan cara ditempatkan dalam wadah loyang dan tanpa diberi merk. Seriring waktu, rupanya peminat jenang buatan Hj. Alawiyah kian banyak. Jenang hasil buatannya pun kerap digunakan untuk berbagai acara mulai pernikahan, sunatan dan lain sebagainya. Kapasitas produksi waktu itu masih sekitar 35 kilogram per hari dengan sistem penjualan ditimbang sesuai pesanan dan nilai pembelian. Capaian "prestasi" pada masa generasi pertama ini tahun 1910 - 1940 masih seputar ide pembuatan hingga perluasan pasar. Hal ini dapat dimaklumi, karena situasi sosial, politik, ekonomi dan aspek-aspek lainnya pada saat itu memang belum memungkinkan munculnya langkah visioner dalam berdagang. Meski begitu, generasi perintis ini setidaknya sudah mengawali sebuah langkah besar yang akhirnya diteruskan generasi berikutnya yakni dengan memasang merk HMR Haji Mabruri pada jenang buatan Hj. Alawiyah.
cara membuat jenang kudus mubarok